Jokowi Juga Membawa Kertas Ke Meja Debatnya Saat Debat Capres Berlangsung

Jokowi Juga Membawa Kertas Ke Meja Debatnya Saat Debat Capres Berlangsung – Debat calon presiden perdana pada Joko Widodo-Ma’ruf Amin serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (17/1) malam, memetik macam sorotan. Salah satunya yang cukuplah banyak dikomentari ialah kertas-kertas di meja semasing pasangan calon, yang dipercaya beberapa orang menjadi bahan ‘sontekan’.

Dalam debat yang ditayangkan beberapa stasiun tv itu, semasing pasangan calon memang menempatkan beberapa lembaran kertas di meja debatnya yang dipercaya menjadi sontekan.

Pengamat politik Kampus Padjajaran Firman Manan memandang pemakaian ‘sontekan’ tunjukkan ke-2 paslon belumlah siap ikuti debat. Walau sebenarnya, katanya, ke-2 paslon sudah terima kisi-kisi pertanyaan debat dari Komisi Penentuan Umum serta sudah lakukan simulasi.

Ia menjelaskan ‘sontekan’ cuma dapat dimaklumi saat debat dikerjakan dengan mendadak oleh KPU.

“Persepsi yang tercipta seolah-olah tidak siap. Walau sebenarnya orang sudah mengetahui latar belakang beberapa calon, telah dikasih kisi-kisi serta telah ada persiapan,

Firman menjelaskan beberapa paslon semestinya menyiapkan diri dengan maksimal sebelum debat supaya tampak mempunyai perform yang baik di mata pemilih.

Ada banyak persiapan yang biasa dikerjakan sebelum debat, seperti kursus sampai simulasi. Menurut Firman, perform yang baik dapat merubah pemilih memastikan pilihannya.

Kalau memerlukan sontekan, kata Firman, bukan bermakna beberapa paslon membawa lembaran kertas berisi kalimat jawaban.

Firman berkata baiknya sontekan dalam debat berbentuk cue card alias kartu panduan yang berisi beberapa poin terpenting tentang jawaban atas topik debat.

Ia menjelaskan cue card bermanfaat supaya peserta debat tidak keluar dari kerangka debat saat memberikan jawaban atau sebagainya.

“Pesan itu semakin lebih efisien, contohnya saat penyampai itu langsung lihat ke hadirin. Tetapi itu problemnya, saat repot dengan catatan ya kurangi perform tentu saja di mata publik,” katanya.

KPU sendiri tidak melarang semasing pasangan calon membawa sontekan di panggung debat. Akan tetapi, Firman merekomendasikan dalam debat-debat setelah itu ke-2 paslon serta team pemenangan lebih menyiapkan debat diri.

Firman menjelaskan debat pemilihan presiden mesti mempunyai standard yang tambah tinggi dari debat penentuan lainnya. Dia juga kembali memperingatkan calon akan dipandang mempunyai perform negatif bila kembali memakai ‘sontekan’ dalam debat.

“Saat mereka mengemukakan dengan meyakini, langsung memandang ke hadirin, mungkin penilaian hadirin atau pemilih jadi lebih baik dalam kerangka ini,” tutur Firman.

Dalam debat tadi malam, beberapa potongan gambar memperlihatkan Jokowi-Ma’ruf serta Prabowo-Sandi lihat kertas yang ditempatkan diatas meja.

Sorotan sangat luas terukur pada Jokowi. Beberapa netizen ada yang mengkritik, tetapi tidak dikit yang menyadari serta membelanya.

Team Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf ataupun Tubuh Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi selama ini belumlah memberi info sah berkaitan sontekan itu.

Akan tetapi lepas dari kehebohan sontekan debat, Firman memandang pada umumnya Jokowi-Ma’ruf lebih unggul dari Prabowo-Sandi.

Firman menjelaskan kelebihan itu tidak dari potensi Jokowi menjawab pertanyaan. Namun sebab Prabowo menjadi lawan gagal mengemukakan jalan keluar pilihan dalam menjawab pertanyaan debat.

Tiada penawaran jalan keluar pilihan itu, kata Firman, membuat peserta debat tidak memberi ruangan diferensiasi buat pemilih untuk memandang beberapa paslon.

“Nah saat tidak ada yang unggul dalam proses itu, tetapi pada akhirnya keuntungannya berada di petahana. Pemilih, sederhananya, jika lawan tidak dapat memberi penawaran pilihan yang lebih baik umumnya mereka akan prefer ke petahana. Sebab petahana telah lakukan jadi tidak cuma janji saja,” katanya.