Masuk Musim Penghujan, 6.943 KK di Boyolali Terancam Bencana Longsor

Masuk Musim Penghujan, 6.943 KK di Boyolali Terancam Bencana Longsor – BPBD Boyolali memetakan banyak wilayah riskan longsor pada musim hujan ini. Lokasi riskan longsor di Boyolali salah satunya, Kecamatan Selo,Ampel, Cepogo, Musuk, Simo, Klego serta Kemusu.

Beberapa daerah itu tertera dalam data daerah riskan musibah Kabupaten Boyolali 2018 yg dipertunjukan Kepala Bagian Kedaruratan serta Logistik, Tubuh Penanggulangan Musibah Daerah (BPBD) Boyolali, Purwanto pada wartawan, Jumat (16/11/2018).

Lalu daerah riskan longsor salah satunya Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo, Musuk, Simo, Klego serta Kemusuk. Kecamatan Selo, Ampel, Cepogo serta Musuk ada di lereng Gunung Merapi serta Merbabu. Sedang Kecamatan Simo, Klego serta Kemusu riskan longsor sebab adalah tanah labil atau tanah contoh.

“Untuk daerah riskan longsor, ada 6.943 KK yg terancam musibah tanah longsor,” papar Purwanto.

Dari data itu, daerah yg sangat riskan longsor yaitu Kecamatan Selo serta Cepogo. Dari 10 desa di Kecamatan Selo, 9 salah satunya dipetakan daerah riskan longsor. Sesaat di Kecamatan Cepogo, sejumlah 15 desa di lokasi itu seluruh masuk kelompok riskan longsor.

“Retakan tanah itu termasuk juga yg riskan longsor, termasuk juga pergerakan tanah. Yg butuh diawasi yg (Kecamatan) Klego serta Kemusu, yg tanah contoh. Termasuk juga daerah Gunung Madu (Simo) pun diawasi. Nek (kalayu) hingga mlotrok (tanahnya) kan bawah lempung,” jelas Purwanto.

“Kalaupun hujan lebat ya kuatir, mulai khawatir kalaupun berlangsung longsor. Jadi, kami tidur di area lainnya yg jauh dari galengan (tebing),” kata Widianto, salah seseorang masyarakat Dukuh Songgobumi, Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali Jumat (16/11/2018).

Perihal itu untuk menghadapi apabila berlangsung longsor yg menerpa tempat tinggalnya. Dukuh di Desa Mriyan, Kecamatan Musuk itu termasuk juga salah satunya lokasi yg riskan longsor. Ada di lereng Gunung Bibi atau Gunung Merapi bagian timur.

Perkampungan itu ada di lereng bukti dengan tingkat kemiringan cukuplah terjal. Pada rumah yg satu dengan tetangganya dipisahkan dengan galengan atau tebing pekarangan yg tinggi serta hampir tegak lurus. Bahkan juga, ada yg tingginya melampaui atap rumah di bawahnya. Rata-rata pada galengan dengan bangunan rumah juga cuma berjarak kurang lebih 1,5 sampai 2 mtr. saja.

Gak cuma itu, masyarakat di dukuh itu pun kuatir jalan salah satu ke arah kampungnya tertutup longsor. Karena jalan itu telusuri lereng jurang yg dalam.

Masuk musim penghujan, beberapa musibah alam meneror masyarakat Boyolali. Salah satunya, angin ribut, tanah longsor serta banjir. Hampir semuanya lokasi di Kota Susu itu, termasuk juga saerah riskan musibah angin kencang.