Pangandaran Diterjang Banjir, 120 Jiwa Terpaksa Mengungsi

Pangandaran Diterjang Banjir, 120 Jiwa Terpaksa Mengungsi – Banjir karena luapan sungai di Desa Babakan serta Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, belum juga surut semenjak Kamis tempo hari sampai sekarang. Banjir itu merendam 990 rumah masyarakat serta 120 jiwa sangat terpaksa mengungsi.

“Keadaan banjir masih stagnan tidak surut. Walau sebenarnya umumnya banjir di Pangandaran luapan sungai itu enam jam telah surut. Ini telah satu hari tadi malam belumlah surut,” tutur Kepala Dinas Pemadam Kebakaran serta Penanggulangan Musibah (DPKPB) Kabupaten Pangandaran Nana Ruhena, Jumat siang (9/11/2018).

Menurut Nana, ketinggian air masih yaitu terendah seputar 60 sentimeter serta tertinggi sampai 120 sentimeter. Ditambah pada Jumat pagi hari ada hujan. Karena banjir itu masyarakat kesusahan untuk melakukan aktivitas.

“Untuk pengungsi masih tetap 120 jiwa, masih ada di balai Desa Pananjung serta beberapa di kerabatnya. Lihat air yang sampai saat ini belumlah surut, peluang pengungsi dapat makin bertambah,” kata Nana.

“Diatas (lokasi hulu) guyuran hujan tinggi, air laut tengah naik jadi air dari sungai sulit masuk ke laut serta menggenang di tempat banjir,” sambungnya.

Dinas Pemadam Kebakaran serta Penanggulangan Musibah Pangandaran selalu memasok logistik untuk beberapa pengungsi. Di tempat pengungsian dibangun dapur umum mandiri.

“Untuk ini hari intensitas hujan tidak demikian tinggi, barusan pagi ada hujan tetapi tidaklah terlalu besar. Saat ini keadaan cuaca tengah mendung. Masyarakat masih siaga serta berhati-hati sebab kekuatan banjir dapat berlangsung, terpenting waktu hujan turun,” katanya.

Menurut Nana, akibat banjir itu tidak mengganggu geliat pariwisata pantai di Pangandaran. Bahkan juga sekarang ini wisatawan masih tetap banyak yang datang. Akan tetapi, untuk wisata sungai seperti bodi rafting sesaat ditutup.

“Untuk wisata pantai masih berjalan tidak ada permasalahan. Silakan wisatawan untuk masih ke Pangandaran janganlah takut, aman,” kata Nana.